Bagi wanita cerita ini layak dijadikan pelajaran.

Menikah, bukan hanya soal ‘menikah’ punya pasangan dan mengalir begitu saja.

Tapi harus dipikirkan secara matang, bukan saja karena umur, tapi banyak hal harus disepakati.

Namun paling penting dalam sebuah pernikahan, yakni ‘rasa’ kasih sayang untuk bersama, untuk berjuang bersama dan saling menjaga.

Dilansir dari The Reporter. Seorang wanita di Malaysia menikah dengan dokter kandungan.

Tapi, baru saja malam pertama dia dibuat merinding dan dihari ke 4 malah minta cerai.

Berikut kisahnya :

Melihat usiaku yang menginjak 29 tahun.

Akhirnya aku menyetujui perjodohan ini. Saya menerima lamaran seorang pria dan kami sepakat untuk menikah tanpa proses saling mengenal lebih dalam.

Kami cuma saling mengenal dua bulan saja sebelumnya menikah.

Tapi kami hanya pergi berkencan sesekali saja.

Sesungguhnya dia miliki tampang yang lumayan, tingginya juga oke.

Hingga saya berjumpa dia, kami secara cepat segera jatuh cinta. Apakah itu cinta, atau sekedar rasa kagum.

Kami seumuran. Dia seorang dokter kandungan yang dikelilingi banyak wanita dan mengetahui seluk beluk dalamnya.

Sebelum menikah kami juga seringkali chatting serta telepon, terkadang kami pergi makan atau melihat bioskop sepulang kerja.

Meskipun dia orangnya tidak banyak ngomong, namun dia begitu perhatian serta saya begitu tersentuh olehnya, akupun jatuh cinta kepadanya.

Di hari pernikahan kami, semua orang mengatakan selamat serta mendoakan supaya kami bahagia.

Saya betul-betul terasa begitu mujur waktu itu.

Tapi ketika malam hari, saya dibuat merinding oleh tingkahnya.

Dia mendadak dingin, sikapnya selama ini perhatian mendadak beku.

Bahkan malam itu, ketika saya begitu cantik dan wangi saat saya mengajak bercinta ia hanya menatap saya.

Ia seakan tidak menunjukkan ketertarikannya.

“Saya capek, besok saja kita. Malam ini saya tak ada niat begitu,” tuturnya

Saya kaget mendengar jawabannya, pada akhirnya malam itu kita tidur masing-masing.

Sambil tidur, saya merasa ini hal aneh.

Mengapa pria tidak mau melakukan hubungan intim. Padahal, sewaktu kami bertemu saya sering menangkap basah matanya melihat badian pribadi saya.

Esok harinya, semua seakan normal. Tapi ketika malam harinya akhirnya ia memberanikan diri mencumbuiku.

Namun lagi-lagi gagal, ia mendadak menghindar dan mengaku capek.

Saat malam ketiga, kejadian yang sama kembali terulang. Saya marah besar karena dianggap sekedar pajangan.

Bahkan malam itu dia tidur diluar karena tak tahan bertengkar dengan saya.

Ketika Malam ke-4 akhirnya semua rahasia terbongkar. Saya seakan tak percaya jika suamiku adalah seorang gay.

Malam itu aku tak lagi berharap ia akan mengajakku bercinta.

Tapi tiba-tiba dia mendatangiku, sebagai istri yang baik aku menurutinya.

Aku berusaha melayani dia sepenuhnya. Tapi ketika semua siap dan tinggal ia memasukkan anunya.

Dia kembali mundur dan mengaku dengan jujur jika dia adalah seorang gay dan selama ini berjuang keras untuk menjadi pria normal.

Dengan pasangan gaynya dia biasa berperan sebagai wanita karena itu ia sulit untuk melakukan itu.

Betapa hancur hati ini. Tampilan luar begitu gagah, tapi dalamnya bikin wanita kecewa.

Akhirnya esok harinya aku memilih bercerai. Aku kemasi semua barang. Aku bilang dengan ibu bapaknya jika kami tak bisa bersama.

Dia hanya termenung, bahkan wajahnya tertunduk.

Mulai sejak keluar dari tempat tinggalnya hari itu, saya sangatlah lega. Saya fikir, meskipun tidak ada cowok yang cinta sama saya, saya dapat menyukai diriku sendiri.

Wanita, tidaklah perlu tergesa-gesa menikah, kamu mesti yakinkan dia memanglah orang yang pas.

Wanita, tidaklah perlu menikah cuma untuk ” menikah “, atau kamu juga akan menyesal di masa datang.

Hanya dalam waktu tiga bulan.

Saya mendengar dia dijodohkan dengan banyak wanita beda, namun tak ada yang pas.

Akhir-akhir ini, dia bahkan juga mulai mendekatiku sekali lagi serta mohon maaf.

Dia membelikanku bunga serta hadiah, bahkan juga menyebutkan menginginkan rujuk kembali.

Namun kesempatan ini saya dengan berani menampiknya, namun mamaku menyebutkan bila dia betul-betul beralih, telah sepantasnya saya beri dia sekali lagi peluang.

Namun saya bagaimana menyepakati diriku lakukan hal tersebut? Apa saya memang mesti memberikan peluang sekali lagi?.(*)

Editor: zulkodri

Baru Menikah, Malam Pertama Merinding, Malam ke 4 Istri Minta Cerai, Terbongkar Anunya Suami?
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *